Menembus Batas di Panggung Internasional: Tiga Siswa MAN IC Sumedang Raih Bronze Medal pada 5th International Youth Summit 2026 di Malaysia
[Malaysia, 31 Mei 2026] Tidak semua kemenangan diukur dari warna medali. Bagi tiga siswa MAN Insan Cendekia (IC) Sumedang, keberhasilan berdiri di panggung internasional dan membawa pulang Bronze Medal dari ajang 5th International Youth Summit (IYS) 2026 di Malaysia merupakan bukti bahwa keberanian untuk bermimpi dan bersaing dapat membawa mereka melampaui batas yang selama ini dianggap sulit dijangkau. Yang membuat pencapaian ini semakin istimewa adalah kenyataan bahwa sebagian besar peserta berasal dari perguruan tinggi, terutama mahasiswa program sarjana (S1), bahkan beberapa di antaranya merupakan mahasiswa program magister (S2).
Mereka adalah Zahwa Tsabita Karima, Naura Mayla Hana Hakima, dan Naufal Dzaki Hibatullah, tiga siswa Kelas X MAN IC Sumedang yang berhasil lolos hingga babak final dan dalam kompetisi ilmiah internasional yang berlangsung pada 30–31 Mei 2026. Dalam ajang yang mempertemukan mahasiswa dan pelajar dari beberapa negara tersebut, mereka mempresentasikan karya ilmiah berjudul Smart Chill (Smart Solar Storage): An Integrated Solar-Powered Cold Storage Innovation For Reducing Post-Harvest Losses In Tropical Food Systems. SMART CHILL merupakan gagasan inovatif yang dirancang untuk menjawab persoalan besar yang dihadapi sektor pertanian tropis, yaitu tingginya kehilangan hasil pascapanen (post-harvest loss) akibat keterbatasan fasilitas penyimpanan dingin. Melalui integrasi energi surya (solar photovoltaic), baterai penyimpanan energi, Phase Change Material (PCM), dan sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT), SMART CHILL menawarkan konsep penyimpanan dingin yang hemat energi, ramah lingkungan, dan dapat dioperasikan di daerah pedesaan yang memiliki keterbatasan akses listrik.
Dalam konsep yang mereka usung, sistem ini dirancang mampu menjaga suhu penyimpanan pada rentang yang sesuai untuk berbagai komoditas pertanian tropis, sehingga dapat membantu menurunkan kehilangan hasil pascapanen sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Selain itu, penggunaan energi terbarukan juga berpotensi mengurangi emisi karbon dan memperkuat ketahanan pangan di wilayah tropis.
Perjalanan menuju podium internasional tersebut tidaklah mudah. Pada subtema Agriculture, SMART CHILL harus bersaing dengan puluhan karya dari berbagai negara dan berhasil masuk ke jajaran 12 finalis terbaik yang diundang untuk melakukan presentasi langsung di Malaysia. Di tengah dominasi peserta yang lebih senior secara akademik, ketiga siswa MAN IC Sumedang tetap tampil percaya diri mempresentasikan ide mereka di hadapan dewan juri internasional. Presentasi dilakukan melalui sesi poster exhibition dan tanya jawab yang menuntut peserta mampu mempertahankan ide serta menjelaskan aspek teknis dan implementasi dari inovasi yang diusulkan.
Bagi Zahwa Tsabita Karima, sebagai leader team pengalaman ini menjadi momen yang membuka wawasan baru tentang dunia riset dan kompetisi internasional. Zahwa mengatakan, “Awalnya kami merasa gugup karena mengetahui sebagian besar peserta adalah mahasiswa. Namun setelah berdiskusi dan bertemu langsung dengan peserta dari berbagai negara, kami menyadari bahwa usia bukanlah penghalang untuk berkontribusi melalui ide dan inovasi. Pengalaman ini membuat saya lebih percaya diri untuk terus belajar dan bermimpi lebih besar.”
Hal senada disampaikan oleh Naura Mayla Hana Hakima. Menurutnya, salah satu pelajaran paling berharga dari ajang tersebut adalah pentingnya kemampuan berkomunikasi dan menyampaikan ide secara efektif, “Kami belajar bahwa memiliki ide yang baik saja tidak cukup. Kami juga harus mampu menjelaskan mengapa ide tersebut penting, bagaimana cara kerjanya, dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat. Kompetisi ini mengajarkan saya untuk berpikir lebih kritis dan lebih terbuka terhadap berbagai perspektif.”
Sementara itu, Naufal Dzaki Hibatullah mengaku terkesan dengan semangat inovasi yang ditunjukkan para peserta. “Saya melihat banyak ide luar biasa yang berfokus pada penyelesaian masalah nyata. Dari pengalaman ini saya belajar bahwa inovasi bukan hanya tentang teknologi canggih, tetapi tentang bagaimana kita dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Bronze Medal ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan SMART CHILL dan menciptakan inovasi yang lebih baik lagi.”
Meskipun belum meraih gelar juara utama, pencapaian Bronze Medal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi MAN IC Sumedang. Keberhasilan mereka menunjukkan bahwa siswa sekolah menengah Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional dan berdiri bersama dengan mahasiswa dari berbagai universitas.
Lebih dari sekadar medali, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga tentang keberanian menghadapi tantangan, pentingnya kolaborasi, serta keyakinan bahwa inovasi dapat lahir dari siapa saja yang berani mencoba.
Di tengah persaingan global yang semakin kompetitif, langkah Zahwa, Mayla, dan Naufal menjadi pengingat bahwa prestasi sejati tidak selalu diukur dari posisi tertinggi di podium. Terkadang, kemenangan terbesar adalah keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman, belajar dari dunia yang lebih luas, dan membuktikan bahwa batas hanya ada jika seseorang berhenti mencoba.






